Tampilkan postingan dengan label Daya Khayalan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Daya Khayalan. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Maret 2009

Senyum Tata

Anak-anak sesungguhnya adalah anak-anak dunia,
Amanah dari Allah yang musti dijaga
Walaupun mereka tidak lahir dari rahim kita1.
♣♣♣

Entah sudah berapa lama ia menangis dan entah sudah ke berapa kali aku mendengar ia menangis hari ini. Kudengar tangisnya hampir menghilang, hanya terdengar sesenggukan habis tangisnya. Kubuka pintu kamarku, ku dapati ia tidur melingkarkan badannya sambil mengelap tetes airmatanya. Naluri keibuanku muncul. Ku ingat dua anakku di kampung yang kutitipkan pada ibuku.

“Tata kenapa nak?” Tanyaku sambil membelai kepalanya. Dia hanya terdiam, terdengar suara dari kamar sebelah kamarku menjawab.

“Minta pulang dia mba. Enak-enak saya bawa kesini. Gak tau apa dia kalo dirumahnya mo di tarok ma ibunya di panti asuhan. Lawang2 ibunya itu mba, nikah sama laki orang anaknya dibiarin aja. Mau enaknya aja.” Kata Lina, bibi Tata.

“Bapaknya kemana Lin?” Tanyaku pada Lina.

“Ya disini, di kota ini. Tapi saya gak tau mba tinggalnya dimana. Pusing saya juga mba, emak sama bapaknya sama-sama lawang.” Jawab Lina.

Kupikir-pikir apa benar ada orangtua seperti itu. Tak terbayang olehku jika dua buah hatiku harus mengalami hal serupa.
♣♣♣

Sehabis berjualan di pasar, terbersit keinginanku untuk mencari ayah Tata. Ah, seandainya saja aku dan Lina bisa menggunakan fasilitas internet, pasti sudah ku kirim email kepada tim termehek-mehek3 untuk mencari ayah Tata. Kuberi tahu Lina rencanaku untuk mencari ayah Tata. Tapi ia menolak.

“Saya pernah ke tempat kerja bapaknya mba, tapi dia sudah gak kerja disana lagi.” Kata Lina.

“Apa kamu sudah tanya Lin, bapaknya Tata itu sekarang kerja dimana?” Tanyaku pada Lina.

“Nggak sih mba.” Jawab Lina.

“Tuh kan belum, ya sudah besok sama saya kita ketempat kerja bapak Tata yang dulu, siapa tau setelah bertemu bapaknya Tata, ia mau menerima Tata.” Saranku pada Lina.
♣♣♣

Hari ini sengaja tak kubuka lapak daganganku demi mencari ayah Tata. Berdua Lina, kami menuju salah satu tailor ternama tempat kerja terakhir bapak Tata yang Lina ketahui. Sampai disana, kutemui pemilik tailor dan kujelaskan pada beliau perihal kedatangan kami. Setelah mendengar penjelasan dari ku secara panjang lebar, beliaupun mengerti dan merasa iba terhadap nasib Tata.
♣♣♣

Secarik kertas berisi alamat kerja baru Bapak Tata kusimpan dengan baik di kantung gamisku. Sampai di alamat yang dituliskan di kertas itu, kulihat seorang pria sedang menjahit dan seorang lagi sedang memotong bahan.

“Itu mba, bapaknya Tata.” Kata Lina menunjuk ke a rah orang yang sedang menjahit.

Kudekati mereka dan ku ucap salam.

“Assalamu’alaikum.” Salamku pada mereka.

“Wa’alaikum salam.” Jawab mereka serempak sambil memandang ke arah kami.

“Ada apa Lin?” Tanya Bapak Tata terkejut melihat kedatangan Lina.

“Ada apa, ada apa, anak kamu tuh terlantar disia-siakan sama ibunya.” Jawab Lina ketus.

“Lho bukannya dulu ayuk kamu yang bersikeras mengasuh Tata waktu kami bercerai? Saya mau mengajaknya kesini tidak diperbolehkan.” Jawab ayah Tata membela diri.

Aku menenangkan mereka. Jika tidak ada penengah, tidak akan habis saling menyalahkan di antara mereka. Kuceritakan pada Bapak Tata mengenai peristiwa-peristiwa yang menimpa Tata. Lina sedikit menambahkan penjelasan-penjelasan yang kuberikan.

“Saya sudah memiliki istri mba. Bagaimana jika ia tiba-tiba harus mengasuh anak saya dengan wanita lain? Perempuan itu lebih perasa mba. Bagaimana coba perasaan mba jika ada di posisi istri saya?” Katanya padaku.

“Saya mengerti pak. Pasti tidak mudah bagi istri bapak mengasuh anak yang tidak lahir dari rahimnya. Tapi apa salahnya jika dicoba atau izinkan saya pak untuk berbicara dengan istri bapak.” Saranku.

Lama ia berpikir.

“Baiklah mba. Mba ke rumah saya dengan Lina bicarakan baik-baik dengan istri saya. Nanti setelah saya pulang kerja saya juga akan menceritakan hal ini pada istri saya.” Katanya kemudian.

Aku dan Lina pun memohon diri untuk pergi.
♣♣♣

Rumah bercat putih itu berada di salah satu perumahan sederhana di timur Bandar Lampung. Ku ketuk pintunya. Ku ucapkan salam. Dari dalam terdengar suara wanita menjawab salamku. Setelah membuka pintu, terlihat wajahnya yang anggun dengan kerudung menutupi kepalanya. Ia mempersilahkan kami masuk.

Sedikit susah untuk membuka mulut menjelaskan maksud kedatangan kami. Tetapi demi Tata kuberanikan diri. Ku keluarkan suaraku, kujelaskan maksud kedatangan kami. Kujelaskan bahwa suaminya sudah mengetahui dari kami dan menyerahkan keputusan sepenuhnya kepadanya.

“Saya gak tau mba harus bagaimana?” Suaranya terdengar sedikit tertahan, kulihat matanya berkaca-kaca.

“Tidak apa-apa mba. Saya mengerti perasaan mba.” Jawabku.

“Ya mba, dipikirkan saja dulu.” Lina memberikan saran.

“Iya mba, dipikirkan saja dulu dengan baik. Dimusyawarahkan dulu dengan suami.” Aku mengiakan saran Lina.

“Kami memang belum mempunyai anak mba, sejak dua tahun kami menikah.” Katanya kemudian.

“Ya sudah mba, dipikirkan saja dulu. Kami pamit mba. Nanti kalau sudah diputuskan dengan matang, mba bisa menghubungi nomor ini.” Kutuliskan nomor hp Lina di sebuah kertas yang ada dimejanya. Kemudian kami pamit untuk pulang.
♣♣♣

Dua minggu sudah terlewati sejak aku dan Lina menemui ayah Tata dan istrinya. Setiap hari kutanya Lina apakah mereka menghubunginya. Tetapi, pasti jawaban Lina tidak atau hanya menggeleng.

Sore ini setelah pulang dari berjualan di pasar, dengan wajah sumringah Lina menyambutku.

“Mba, tadi ayahnya Tata ma istrinya kesini. Tata sudah dibawa kerumah mereka.” Kata Lina dengan antusias.

“Alhamdullilah ya Allah.” Jawabku mendengar kabar dari Lina.
♣♣♣

Hari ini ulang tahun tata yang ke 7. Aku dan Lina berencana ke rumah yang Tata tinggali sekarang. Sudah kusiapkan pakaian untuk Tata yang kubungkus dengan rapi. Ah, sudah dua bulan ini aku tak lagi mendengar tangisnya.

Di rumah sederhana itu, sudah ramai anak-anak lain ikut merayakan ulangtahun Tata. Tata dan Bapak Ibunya menyambut aku dan Lina.

“Tata senang disini na?” Tanyaku sembari memberikan hadiah padanya.

Ia membukanya. “Tata senang disini tante. Terimakasih bajunya.” Ia tersenyum manis sekali. Senyum pertama yang kulihat sejak pertama bertemu dengannya.


Bandar Lampung, Maret 2009
Untuk Ikhwan Kecilku, Alif Putra Pratama.

Note:
1. Markesot bertutur, Emha Ainun N.
2. Lawang (bahasa Lampung) : gila
3. Termehek-mehek : Reality show pencarian orang di stasiun Trans TV

Senin, 02 Maret 2009

Maaf Yang Terlewat

Koran-koran bekas, buku-buku bekas, kardus-kardus tak terpakai, besi-besi berkarat menjadi pemandangan yang harus dibuat menarik oleh mataku. Ditambah lagi tumpukan gelas-gelas bekas air mineral sekarung yang tadi di bawa oleh seorang ibu belum sempat kubereskan. Ah, apakah seperti itu wajah ibuku? Aku tidak ingat. Samar ku ingat wajah ibu. Jelas ku ingat kejadian malam itu.

♣♣♣

“Kenapa pergi dengan suami orang ha?”. Bapak membentak ibu sangat kasar, matanya terbelalak, minuman yang ia minum dari botol ditangannya mempengaruhi pikirannya. Tangan kanannya ia angkat mendekati wajah ibu.

“PLAKK”!!!!. Tangan itu tepat mengenai wajah ibu.

Nggak mas, aku tak sengaja bertemu di jalan dan kemudian mas tarto membantu mengantarku periksa kandungan ke puskesmas”. Ibu menangis membela diri

“Kenapa tidak memintaku mengantar ha?”. Bapak semakin berteriak.

“PLAKK”!!!!. Kembali tangannya mendarat di wajah ibu. Kulihat darah mulai keluar dari hidung ibu.

“Mas tadi siang tak ada dirumah.” Ibu terlihat semakin takut.

Aku hanya bisa menangis ketakutan melihat mereka bertengkar, bapak semakin menyeramkan.

“Aku ini suamimu. Apa kau malu punya suami seperti aku??”

“PLAKK”!!!

“PRANNNGGG”!!! Badan ibu mengenai tumpukan piring yang belum sempat tercuci. Ia tersungkur, tak sadarkan diri. Darah mengalir dari kedua pahanya.

Aku hanya bisa menangis, memanggilnya.

“Ko, Joko, cepat kemari bantu abah membereskan ini!.” Panggilan abah yang selama ini menjadi pengganti bapakku mengagetkanku.

“Iya bah”. Cepat aku mendekatinya.

“Ada apa bah?” Tanyaku setelah mendekat.

“Ini bereskan! Pisahkan ya, plastik dengan plastik, besi dengan besi!”. Ia menunjuk setumpuk benda yang seharusnya tak layak pakai itu, tetapi jika di daur ulang benda-benda itu akan dapat digunakan kembali. Sudah hampir 30 tahun abah menerima dan menampung hasil-hasil kaisan para pemulung.

Aku duduk dan mulai memilah benda-benda itu.

“Kapan kau akan menjenguk bapakmu lagi?” Tanya abah.

“Belum tahu bah”. Jawabku enteng.

“Bulan depan ia akan keluar bukan? Kalau abah tak salah bulan depan juga usiamu menginjak ketiga belas. Kau pasti senang”. Tanya abah lagi.

“Entahlah, mungkin saja. Angka sial”. Jawabku sekenanya. Aku tak tahu perasaanku seperti apa. Antara senang dan benci. Senang karena bapakku akhirnya akan kembali bersamaku dan aku tidak perlu lelah membanting tulang untuk sesuap nasi pengganjal perutku. Benci karena aku akan bersama dengan orang yang sudah membuatku takkan bisa bertemu dengan ibuku kembali.

“Lho..lho.. memangnya kenapa? Walaupun begitu ia tetap bapakmu, orangtuamu. Maafkanlah semua kesalahannya. Allah saja memberikan ampunan kepada hambanya jika hambanya itu bertaubat dengan sungguh-sungguh. Kau pun sebagai manusia harus bisa memberi maaf kepada orang-orang yang telah mendzolimi dirimu”. Abah menasehatiku.

“Aku pergi dulu bah”. Jawabku sembari meninggalkan pekerjaan yang belum selesai.

“Joko!!! Kau ini kenapa?? Mau kemana??” Tanyanya.

“Ke rumah Udin sebentar, sebelum maghrib aku sudah pulang”. Jawabku berteriak.

♣♣♣

Besok bapakku akan keluar dari penjara yang sudah mengurungnya selama tujuh tahun. Semalam aku mengambil seluruh tabunganku di abah. Beberapa uang puluhan ribu akan ku pakai untuk membelikan bapak sarung sebagai hadiah atas kembalinya ia menghirup kebebasan. Rupanya aku masih perhatian juga padanya. Aku tersenyum dalam hati. “Aku tidak tahu pak, bisa atau tidak aku memaafkanmu”. Kataku dalam hati.

Sampai di rumah kubungkus dengan rapi sarung yang ku beli itu. Kuselipkan surat didalamnya yang berisi tulisan bahwa aku belum siap bertemu dengan bapakku saat ini. Aku masih mengingat jelas apa yang terjadi malam itu.

Kutitip abah bingkisan sarung untuk bapak. Abahlah yang akan menjemput bapak pulang. Ku bilang pada abah aku akan menyambutnya di rumah saja. Abah sedikit kecewa karena aku tak turut serta menjemput bapak, tetapi kemudian ia mengizinkanku untuk menyambut bapak di rumah saja.

♣♣♣

Maafkan aku bapak, yang belum bisa memaafkanmu. Maafkan aku abah belum bisa membalas semua kebaikan abah. Tiga hari terakhir kemarin kubulatkan tekadku untuk menjauh dari kalian selama beberapa waktu. Aku pergi. Jika rasa sakit di hati ini hilang, baru aku akan menemui kalian. Ampuni aku Rabb..

Padangcermin, Februari 2009